A A A

Sekilas Tentang Kodein

Kodein adalah sejenis obat golongan opiat yang digunakan untuk mengobati nyeri sedang hingga berat, batuk (antitusif), diare, dan irritable bowel syndrome.

Pengubahan kodein menjadi morfin berlangsung di hati, dan dikatalisis oleh enzim sitokrom P450 dan CYP2D6, sedangkan enzim CYP3A4 akan mengubah kodein menjadi norkodeina.

Efek samping yang umumnya terjadi akibat menggunakan kodein meliputi eforia (perasaan senang/bahagia), gatal-gatal, mual, muntah, mengantuk, mulut kering, miosis, hipotensi ortostatik, penahanan urin, depresi, dan sembelit (2).

Efek samping yang mengancam jiwa, seperti halnya senyawa opiat lainnya adalah depresi saluran pernafasan. Depresi saluran pernafasan ini tergantung pada jumlah dosis yang diberikan, dan berbahaya bila overdosis. Oleh karena kodein dimetabolisme menjadi morfin, hal ini menyebabkan morfin dapat disalurkan melalui air susu ibu kepada bayinya dalam jumlah yang mematikan, karena mengakibatkan depresi saluran pernafasan bayi yang disusui (3).

Referensi

(1). Vree TB, van Dongen RT, Koopman-Kimenai PM (2000). "Codeine analgesia is due to codeine-6-glucuronide, not morphine". Int. J. Clin. Pract. 54 (6): 395–8.

(2). Australian Medicines Handbook (2004). Rossi S. ed. Australian Medicines Handbook. Adelaide: Australian Medicines Handbook.

(3). Koren G, Cairns J, Chitayat D, Gaedigk A, Leeder SJ. Pharmacogenetics of morphine poisoning in a breastfed neonate of a codeine-prescribed mother. Lancet 2006; 368: 704.

Kodein merupakan prodrug, karena di saluran pencernaan kodein diubah menjadi bentuk aktifnya, yakni morfin dan kodeina-6-glukoronida (1). Sekitar 5-10% kodein akan diubah menjadi morfin, sedangkan sisanya akan menjadi bentuk yang bebas, atau terkonjugasi dan membentuk kodeina-6-glukoronida (70%), norkodeina (10%), hidromorfona (1%).  Seperti halnya obat golongan opiat lainnya, kodein dapat menyebabkan ketergantungan fisik, namun efek ini relatif sedang bila dibandingkan dengan senyawa golongan opiat lainnya.